Selasa, 08 Desember 2020

SELOPARK : RINTISAN MENGGAPAI MIMPI

Ijtihad Mengentaskan Kemiskinan Melalui Wisata Desa

Kabupaten Bantul memiliki 75 kalurahan yang berada di 17 kapanewon, salah satunya adalah Kalurahan Selopamioro. Selopamioro, adalah sebuah kalurahan dibawah kapanewon Imogiri yang sebagian besar wilayahnya berupa perbukitan dan berada di perbatasan Kabupaten Bantul dengan Kabupaten Gunungkidul. Sampai akhir semester 1 tahun 2020, kalurahan ini memiliki penduduk sebanyak 16376 jiwa dengan 4788 KK dan jumlah kemiskinan sebanyak 5491 jiwa. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani, buruh tani dan wiraswasta. Sepertiga jumlah penduduk masih berada dalam derajat kemiskinan. Karena faktor jumlah penduduk yang besar, angka kemiskinan tinggi, luas wilayah dan kesulitan geografisnya tinggi maka kalurahan ini beberapa tahun terakhir selalu memperoleh Dana Desa terbanyak di Kabupaten Bantul. Pada tahun 2020 ini dana desa yang diperoleh sebesar Rp. 2.499.562.000,. Dana desa ini diharapkan dapat merubah derajat kesejahteraan warga desa melalui program yang berkesinambungan. Tentu program yang harus dikembangkan juga dengan menafaatkan sumber daya lokal, baik sumber daya manusia maupun sumber daya alamnya.

Pendamping P3MD Kabupaten Bantul telah mendorong Pemerintahan kalurahan untuk lebih kreatif dan inovatif melaksanakan berbagai program pembangunan untuk mengentaskan kemiskinan ini. Hal itu telah didengungkan saat Program Inovasi Desa yang dilaksanakan sejak tahun 2017. Salah satunya dengan pemanfaatan potensi alam pegunungan yang dilalui bentangan sunyai Oya ini. Sebuah pilihan mimpi yang sangat luhur untuk memberikan kesejahteraan warga melalui wisata. Langkah ini dimulai saat pemerintah kalurahan memperoleh hibah dari Kementerian Desa PDTT sebesar Rp. 1,7 milyar untuk membangun kawasan wisata yang saat ini dikenal dengan Selopamioro Adventure Park (SELOPARK) yang berada di wilayah padukuhan Jetis Selopamioro yang berbatasan dengan padukuhan Kedungmiri Sriharjo. Pada saat membangun kawasan ini, hal pertama yang dilakukan adalah sosialisasi untuk meyakinkan warga masyarakat bahwa wisata bisa menjadi motor penggerak pembangunan yang cepat. Tahun pertama belum sepenuhnya warga membersamai kami, mereka tidak mau bersama sama membangun wisata, bahkan memberikan kesan yang buruk saat menerima tamu yang datang.

Para pemuda perintis dan pe-ngelola wisata Selopark tidak menyerah, bersama pemuda setempat mereka terus menso-sialisasikan wisata mampu merubah kesejahteraan warga. Selain respon warga yang rendah, ketika itu ada masalah dengan pemilik lahan dimana para pemuda perintis ini sempat diusir dari lahan yang dipakai untuk lokasi wisata karena dirasa ada pembagian yang kurang adil akan hasil sewa. Namun kembali, kami berdamai dengan siapapun, sampai pada akhirnya bersama pemerintah kalurahan, para pemuda ini memperjuangkan Perdes tentang BUMDes yang menangani wisata Selopamioro Adventure Park. BUMDesa ini diberi nama Mekar Jaya Selopamioro. Wahana wisata yang dikembangkan adalah Wahana Perahu karet dan Kanoe, Wahana Camping Ground dan Outbond, Wahana Climbing (Via Ferrata) dan Kafetaria. Panorama alam Selopark memang sangat indah, bentangan kali yang bersih dipadu dengan alam pegunungan dan persawahan terasering serta jembatan gantung akan membuat wisatawan kian fresh sepulang dari sana. Selain mengelola destinasi wisata desa ini BUMDesa Mekar Jaya juga mengelola persewaan tenda dan alat-alat pesta dan catering.

Dan hasilnya semua senang, dan sangat warga kooperatif dengan pengelola dan Pemerintah Desa. Data jumlah pengunjung periode tahun 2018 sampai pertengahan tahun 2019 berjumlah 21.605 pengunjung dengan memberikan masukaan sebesar Rp. 168.702.500,-. Dari sinilah ketertarikan warga masyarakat yang semula menolak, saat ini telah beraktivitas jualan di kawasan ini. Karena antusiasnya masyarakat dan pendapatan ini pemerintah kalurahan bersama pengelola kian giat mengembangkan program dengan memberikan alokasi dana desa yang kian besar. Dari sinilah kelihatan nyata bahwa pengembangan wisata desa bisa membuka lapangan pekerjaan dan memberikan pendapatan yang layak bagi warganya. Berbagai pengembangan sarana prasarana disuport oleh desa agar wisatawan kian nyaman berwisata sepanjang waktu. Suport dana desa tahun 2020 yang mencapai 100 juta telah dimanfaatkan untuk membangun sarana prasarana yang diperlukan. Cafetaria dan home-stay pun mulai dirintis dan nyatanya sudah banyak wisatawan yang memanfaatkannya.

Di tahun yang ketiga ini, Selopark sudah ditangani BUMDes) dengan memfokuskan bagaimana menambah fasilitas dan daya tampung agar lebih banyak pengunjung yang berdatangan. Tak lupa kita juga mengundang penggiat medsos dan wartawan online untuk meliput kegiatan kami. Hal mendasar yang menjadi tantangan bagi BUMDesa dan Kelompok Sadar Wisata Selopamioro adalah bagaimana merubah mindset warga yang berdagang dan bertani untuk mengembangkan skill mereka ke bidang pariwisata. Oleh karena itu berbagai paket pelatihan pengelolaan wisata bagi warga masyarakat terus giat dilakukan oleh pemerintah kalurahan bekerjasama berbagai pihak/lembaga. Salah satunya dengan dinas pariwisata kabupaten bantul.

Dalam perkembangan terakhir, Selopark telah memberi kemanfaatan yang luar biasa dimana berbagai wahana telah mampu memberikan pekerjaan dan pendapatan bagi warganya. Wahana Perahu karet dan kanoe telah mampu memperkerjakan 30 pemandu dan 5 orang tukang parkir. Wahana climbing (Via Ferrata) telah mampu memperkerjakan 5 warga sebagai koki dan pelayan, 2 orang tukang parkir dan 5 pemandu. Sedangkan Kafetaria telah didukung dengan 15 kios milik warga dengan menyediakan berbagai kuliner dan produk cinderamata seperti kerajinan Batik Selokaton sebanyak 12 pembatik, sneck Desa Prima Selo Maju sebanyak 30 orang. Inilah upaya yang akan terus dilakukan Pemerintah Kalurahan Selopamioro untuk mengentaskan kemiskinan.

Pengembangan wisata desa ini bukan tidak ada hambatan, namun para pengelola justru kian tertantang untuk mengatasi masalah dan hambatan yang dialaminya. Satu tekatnya adalah masyarakat harus sejahtera. Hambatan dan masalah yang dihadapi saat ini adalah sumber daya masnusia yang terbatas kemampuannya, akses menuju lokasi yang sempit sehingga bus besar tidak bisa masuk, sangat bergantung dengan alam sehingga jika ada hujan sering off beroperasi dan tidak adanya parkir yang luas untuk hari hari libur yang banyak menerima pengunjung. Persoalan ini sudah dikomunikasikan dengan pemerintah kalurahan dan berbagai pihak dan ada komitmen dari pemerintah kalurahan untuk mensuport agar Selopark bisa mengoptimalkan kesejahteraan warganya. Di masa pandemi COVID-19, pengelola sempat memutuskan untuk menutup tempat wisata ini untuk beberapa bulan, dan baru buka kembali setelah pemerintah Kabupaten Bantul mengijinkan untuk buka kembali. Dengan protokol kesehatan yang ketat, pengelola pun memberikan layanan kepada wisatawan. Majulah wisata desa, sejahteralah warganya.

 

(Ditulis oleh Slamet, S.Pd., SH. – TAPP P3MD Kabupaten Bantul)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PKTD Untuk Kegiatan Kebun Buah Desa

                   Sesuai dengan kebijakan Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi dalam penggunaan Dana Desa tahun ...